Kubuka mataku perlahan, setengah sadar aku bangun dari tempat tidurku karena kegaduhan dari luar, seseorang tengah menggedor pintu kamarku, kulirik jam weker dimeja sebelah tempat tidurku jam 00.01 pagi, aku menyumpah dalam hati siapa yang bertamu jam segini.
Aku berjalan gontai menuju pintu dengan perasaan sedikit kesal, saat ku buka pintu tiba-tiba beberapa orang langsung memelukku dan bersorak, dan kemudian nyanyian Happy Birthday pun bergema dikamarku.
Aku mulai menyadari ternyata mereka yang dari tadi menggedor pintu kamarku.
Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat ulang tahun untukku, dari mulai keluarga dan sahabat-sahabatku.
Aku berusaha melihat kalender di meja, nah kini aku sadar betul ternyata hari ini ulang tahunku yang ke 21 tahun.
"Ayo na, make a wish dulu dong", ucap sahabat ku.
Aku menutup mataku dan mulai berdo'a untuk keselamatan ku dan orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku dan semoga aku bisa bangkit dari keterpurukanku.
"Udahhh, makasih ya semuanya", jawabku sedikit terharu.
Hmm, ternyata masih ada ya yang ingat ulang taun ku, padahal aku sendiri selalu berusaha melupakannya.
Aku diajak keluar rumah oleh sahabat-sahabatku, disinilah pembantaian terhadapku dimulai. entah apa yang disiram oleh sahabatku ketubuhku ini, baunya sangat memuakkan, n membuatku ingin muntah, 21 tahun acara ultah masih aja seperti acara ultah ABG.
Setelah mereka puas aku pun segera mandi, selesai mendi kulihat mereka telah duduk rapi dimeja makan rumahku dengan makanan yang telah disiapkan oleh mama ku. Ternyata mereka telah bersekongkol, pantas aja mereka bisa masuk rumah jam segini.
Begitu aku sampai dimeja makan mama langsung mengucapkan selamat ulang tahun n mencium keningku.
Rasanya seperti kembali anak-anak. hehe
Setelah acara selesai dan teman-temanku kembali kerumah masing-masing aku masuk kedalam kamar, kuambil telfon genggamku dan kulihat ada beberapa pesan singkat yang belum dibaca, yah sudah bisa ditebak isinya adalah ucapan selamat ulang tahun dari teman-temanku yang tidak bisa dateng tadi, dan satu pesan terakhir dari Ricky, salah satu teman pencinta alamku.
Ku baca pesannya, isinya biasa saja, hanya ucapan dan do'a untukku kubalas pesannya dan mengucapkan terima kasih atas ucapan dan do'anya.
Aku berjalan kesisi jendela kamarku, menatap langit yang masih gelap, teringat dengan senyumnya, senyum seseorang yang tlah pergi meninggalkanku dalam keterpurukan yang menyakitkan ini, aku masih terus disini terus dalam keterpurukan ini, tak pernah berusaha untuk bangkit, seolah aku tlah terlanjur mencintai keterpurukanku ini.
Teman-temanku selalu memberikanku semangat untuk bangkit, tapi ntah kenapa semakin aku berusaha bangkit, maka akan semakin menyakitkan rasa itu.
Kuputuskan untuk tidak tidur sampai pagi datang, sampai matahari memancarkan sinar indahnya, hari ini adalah tahun kedua aku tak bersamanya, tak bersama cinta yang dulu hadir dihidupku, cerita indah yang dulu dirajut kini hanya tinggal sebuah kenangan yang menyisakan kepahitan dan luka membusuk yang tidak bisa sembuh.
Aku terus berdiri disini sampai seseorang masuk ke kamarku yang tak ku kunci.
"kamu g tidur na?", tanyanya.
Aku menoleh, ternyata itu Dion sepupuku yang kebetulan menginap dirumahku malam ini.
"belum", jawabku singkat.
"kenapa? kamu masih ingat am dia?", tanyanya lagi
Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan sebuah senyuman pahit.
"Luna..luna, mau sampai kapan sih kamu terus terpuruk kya' gini?",
"kamu g kan ngerti ama apa yang aku rasain", jawabku
"aku ngerti na aku udah pernah ngerasain waktu aku kehilangan Arin, tapi aku bisa bangkit aku bisa ngebuka hati aku buat orang lain, sampai kapan kamu mau kya gini?"
"sampai ada seseorang yang bisa ngehapus rasa sakit hati aku ini", jawabku pelan
"itu g akan terjadi kalo kamu g mau ngebuka hati kamu untuk orang lain luna".
Aku hanya diam menatap lagit yang mulai terang, tanpa kusadari Dion tlah meninggalkanku sendiri dengan lamunanku.
Aku tersadar oleh suara telfon genggamku yang mulai berdering, ku lihat layar telfon genggamku.
"Ricky??",desisku.
Lalu kuangkat telfonnya.
"Halo"
"Hallo na,dimana?", jawabnya dari sana.
"Masih dirumah, ada apa ky?"
"Udah jam 7 nih, kamu g ke kampus?", tanyanya
"Loh, kan masih liburan semester, ngapain ke kampus?"
"Nah ini nih, pasti kamu lupa deh, hari ini kan kita mau ada acara bakti sosial dengan bersihin kali, kamu lupa?"
"Ya ampun, aku lupa ky, yah gimana dong nih, kya nya g keburu deh kalo aku ke kampus sekarang"
"Gini deh sekarang teman-teman kita udah di jalan dari kampus ke kali, aku juga skarang lagi dijalan, kalo kamu mau aku jemput kamu dulu, nanti kita langsung ke kali, gimana?"
"emm, boleh sih, tapi g ngerepotin kan?"
"ngga' kok na, ya udah kamu siap-siap aja dulu, sampai ketemu nanti ya"
"iya, makasih ya ky, bye"
"bye"
Langsung kututup telfon ku bergegas siap-siap dan menunggu Ricky datang, 15 menit setelah itu Ricky telah sampai didepan rumah, lalu kami pergi bersama-sama.
Disepanjang perjalanan kami hanya diam sambil menatap jalan berharap cepat sampai ke tempat bakti sosial dilakukan, sesampainya disana beberapa teman telah datang.
Aku bergegas turun dari motor Ricky dan menghampiri teman-teman yang udah ada disana.
"Yang lain mana din?", ucapku membuka pembicaraan.
"Masih dijalan paling bentar lagi nyampe na, kamu dari mana kok baru nyampe?", tanya Dina
"Aku dari rumah, maaf ya agak telat soalnya tadi ada urusan", jawab ku sambil nyengir. Aku menoleh ke Ricky dia hanya senyum-senyum mendengar penjelasanku ke Dina. Aku memberikan isyarat agar dia tidak senyum-senyum, karena takut Dina menyadari kalo aku berbohong.
Setelah semua datang kegiatannya pun kami mulai.
Selama kegiatan berlangsung aku tak melihat Ricky, mungkin dia ke tempat lain.
Sekarang udah jam 11 siang, matahari sudah tinggi n membuat semuanya kelelahan, acara selesai setelah sholat dzuhur karena kami akan makan siang bersama setelah itu baru deh pulang ke rumah masing-masing.
Jam setengah 12 semuanya naik kedaratan, sebagian istirahat dan sebagian lagi siap-siap sholat dzuhur.
Setelah yang sholat selesai, kami makan siang.
Setelah itu kami pulang kerumah masing-masing.
Aku berjalan menuju halte terdekat karena aku g bawa kendaraan sendiri, ditengah jalan aku ketemu dengan Ricky.
"hai na, ngapain pulang sendiri"
"Loh trus mau pulang am siapa? masa iya rame-rame?, lagiankan arah pulang aku emng berlawanan arah ama yang laen, kamu ngapain lewat sini? bukannya rumah kamu bukan lewat sini?"
"g apa-apa, aku cuma mau ke toko buku sebentar, kamu mau ikut g?", ajaknya
"mmm, gratiskan?"
"Ya iya lah gratis, emang aku tukang ojek apa harus bayar", jawabnya sdikit kesal
"Hahaha, ya udah ayo", jawabku sambil tertawa senang melihat ekspresi wajahnya.
Sesampainya di toko buku Ricky langsung menuju jejeran novel, sementara aku mengikuti dibelakangnya, matanya terus mancari sampai matanya berhenti pada satu titik, dia mengambil buku itu dan membaca sinopsisnya, aku hanya berdiri memperhatikan sikapnya.
"Kamu suka baca novel?", tanyaku membuka pembicaraan
"iya, kadang-kadang kalo lagi g ada kerjaan, kamu g suka ya?"
"Dulu suka sih, cuma sekarang aja jadi jarang baca"
Dia hanya tersenyum dan terus melanjutkan konsentrasinya mencari diantara jejeran novel.
Setelah dia berhasil menemukan novel yang dia cari, kami langsung pulang. Sesampainya dirumah
"mm, makasih ya udah anter jemput aku"
"iya sama-sama, makasih juga udah nemenin ke toko buku", jawabnya sambil tersenyum
"kamu g masuk dulu?", ajak ku
"Nggak, kapan-kapan aja ya"
"ohh ya udah kapan-kapan ya"
"Eh, na nih buat kamu", ucapnya sambil menyodorkan sebuah novel
"Ini novel apa ky?"
"kamu baca dulu aja, mudah-mudahan novel ini bisa bikin kamu ngerasa lebih baik"
"Oh, ya udah nanti aku baca ya,"
"oke, aku pulang dulu ya"
"Iya hati-hati ya"
Sepulangnya Ricky aku putuskan untuk mandi, setelah mandi aku ambil novel yang diberikan oleh Ricky, kubaca covernya "Kutemukan Dirinya di Dunianya yang Sepi", begitu membaca covernya aku bisa nebak isi novel ini, ini pasti tentang seseorang yang bisa membuat orang yang dicintainya bangkit dari keterpurukan.
"Oke aku baca novel ini, siapa takut", pikirku dalam hati.
Tak kusadari jam sudah menunjukkan jam 10 malam sejak selesai mandi tadi aku terpaku membaca novel itu, awalnya biasa saja tapi lama kelamaan aku merasa seseorang yang dunianya sepi dinovel itu adalah aku, semakin aku membaca novel ini semakin enggan aku berhenti membaca, aku harus beresin baca novel ini secepatnya.
Akhirnya aku sampai dihalaman terakhir saat tokoh Fay datang kembali dan menjadikan Remi calon istrinya. Selesaaii ucapku dalam hati....
Setelah membaca novel aku putuskan untuk tidur, sayangnya mata ini enggan untuk terpejam, membaca novel itu seolah kembali ke masalalu dan masa sekarang, tapi bukan masa depan, mungkin belum...
Kuambil tasku yang sedari pulang baksos tadi belum kubereskan, aku mulai mencari benda itu, akhirnya kutemukan sebuah kalung dengan liontin beruang, liontin kesayanganku, liontin yang sangat istimewa dari seseorang yang sangat istimewa pula, tapi sekarang orang itu sangat mengecewakan, mungkin dia sangat pantas dibenci, tapi aku tak pernah bisa membencinya, tak pernah bisa me....
Tiba-tiba saja lamunanku buyar karena telfon genggamku bergetar di sampingku, langsung kuambil benda itu dan ku lihat tulisan dilayarnya.
"Ricky"
Lalu kuangkat telfon nya.
"Halo ky"
"Hai na, lagi apa?"
"Lagi tiduran aja, knapa?"
"gak apa-apa kok, belum tidur na'?"
"belum ky, kamu knapa blum tidur??"
"belum bisa tidur aja, oh ya kamu udah baca novelnya?"
" udah ky, udah beres malah"
"kamu gak apa-apa kan?"
"ngga apa-apa kok, emang kenapa ky?"
"Ah g apa-apa kok na, o ya besok ada acara nggak?"
"g ada, emang kenapa?"
"ikut aku yuk, ada yang mau aku tunjukin sama kamu"
"mmm, jam brapa?"
"jam 10 gimana?"
"boleh deh, tapi mau nunjukin apa sih?"
"nanti kamu liat sendiri aja ya na"
"ya udah, sampai besok ya, aku mau tidur nih ngantuk"
"Iya, nice dream ya"
"iya nice dream too"
Langsung kututup telfonnya,
"apa sih yang mau ditunjukin?? kenapa g ngomong sekarang aja coba?? aneh...!!", ucapku dalam hati.
Kemudian kuputuskan untuk tidur.
Pagi ini aku udah siap dan nungguin Ricky dateng, jam 10 kurang 10 menit dia nyampe dirumahku
"Pagi na"
"Pagi ky, ayo masuk... udah sarapan?"
"Udah kok na', oh ya orang rumah kamu kemana?"
"Ada kok, mau dipanggilin?"
"Ehh, ada tamu", tiba-tiba mama muncul dari dalam rumah sebelum aku panggil.
"Iya tante, kenalin nama saya Ricky"
"iya nak Ricky, saya mama nya Luna, mau jalan-jalan ya?"
"Iya tante, boleh kan saya ajak luna jalan?"
"Boleh kok, ya udah kalian ngobrol dulu ya tante mau masuk dulu masih ada kerjaan"
"Iya tante, makasih"
Setelah itu mama langsung masuk kedalam.
"Ayo berangkat sekarang kan?", tanyaku
"Eh iya na, ayo kita berangkat"
Kami langsung melaju ke tempat yang Ricky maksud.
Sebuah danau yang indah, di hiasi rimbun pepohonan, disalah satu sisi danau itu kulihat ada seorang wanita yang duduk dikursi roda didekatnya ada seorang wanita separuhbaya sepertinya wanita separuhbaya itu adalah pembantunya, kearah wanita itulah kini Ricky berjalan, aku mengikutinya dari belakang.
Sesampainya ditempat wanita itu
"Bi', gimana?", tanya Ricky kepada wanita separuhbaya itu.
Wanita itu hanya menggeleng, kemudian Ricky mendekati wanita yang duduk dikursi roda, dia berjongkok didepan wanita itu.
"Kak, pulang yuk kakak udah dari tadi loh disini, anginnya dingin disini nanti kakak sakit", perempuan itu hanya diam tanpa menoleh sedikitpun.
"Ayo dong kak, kakak nanti sakit, kan kasihan sama mas Leo disana kalo kk kya gini terus kak, mas Leo pasti sedih", ucapnya lagi.
Setelah dia mengatakan itu, tiba-tiba tubuh wanita itu berguncang, tangisnya meledak Ricky langsung memeluk wanita itu, menenangkannya dari tangisnya.
"Sekarang kakak sama bi' Wati pulang ya", kata Ricky setelah wanita itu lebih tenang.
Wanita itu hanya mengangguk dan kemudian pulang dengan didorong oleh pembantunya.
Aku diam, terdiam lebih tepatnya, aku masih belum mengerti apa sebenarnya yang menimpa wanita itu, kenapa dia menjadi sangat rapuh.
Tiba-tiba aku tersadar dan kaget karena seseorang menyentuh bahu ku.
"Maaf na, abis dari tadi aku manggil-manggil g dijawab sih", ucap Ricky
"Ya, gak apa-apa kok ky.. Oh ya yang tadi itu siapa ky?", tanyaku
"Oh itu kakak ku na, udah 5tahun dia kya gitu"
"Sejak kapan dia kya gitu?"
"Ya sejak 5 tahun yang lalu tepatnya saat calon suaminya yang besok akan resmi menjadi suaminya mengalami kecelakaan pesawat dan sitemukan tewas, semenjak itulah kakak g pernah mau bangkit dari keterpurukannya, g mau makan, g mau ngapa-ngapain dy cuma duduk dan menatap kosong pada satu titik",
"Apa g ada yang bisa bikin kakak kamu bangkit ky??, kasian kan kalo dia kya gitu terus",
"Bisa aja sebenernya na', kalo dia mau ngebuka hatinya buat orang lain".
Aku terdiam mendengar penjelasan Ricky, aku teringat dengan kata-kata Dion sepupuku dihari Ulang Tahunku. Apa iya aku harus membuka hati buat orang lain?? tapi siapa?? tanyaku dalam hati.
"apa g ada cara lain ky?", tanyaku lagi
"g ada na, aku rasa cuma itu caranya, selain itu kamu juga rajin sholat, sholat bisa bikin kamu lebih tenang na, n kamu bisa berdo'a buat ngedapetin yang lebih baik, ya kan?", tanyanya
"mmm... iya sih ky"
"ehh, kamu kok nanya masalah kya gini? kamu knapa na'?"
"gak apa-apa kok ky"
"Udah jawab aja na"
Setelah beberapa saat berfikir, aku putuskan untuk bicara walaw berat.
"Iya ky, aku ini g bisa bangkit dari keterpurukan, aku terus aja nutup hati aku buat orang lain"
"udah na' kamu g perlu terusin cerita kamu, aku udah tau kok semua tentang kamu", ucapnya sambil tersenyum
"ehh, kamu tau dari mana?, tanyaku kebingungan
"Dion, dia itu temen satu tim basket aku di club"
Dalam hati kukutuki Dion yang telah memberi tahu masalahku pada orang lain.
"kamu g apa-apa kan na?, tanya Ricky lagi
"Aku gak apa-apa kok, kamu kenapa nanyain masalah pribadi aku sama Dion?", jawabku dengan nada agak kesal.
"Aku suka sama kamu na', waktu pertama kali kita kemah mapala, tapi kamu selalu aja nutup diri kamu dari aku, dari cowo lain juga, aku janji na aku pasti bisa bikin kamu bangkit, aku pasti bikin kamu bahagia, tolong kasih aku kesempatan na, selama ini aku terus coba deketin kamu, tapi kamu selalu menghindar, aku g pernah nyerah aku terus deketin kamu, aku terus cari informasi tentang kamu sampai aku ketemu Dion", katanya pelan.
"Nggak kamu g bisa, buktinya kamu g bisa bikin kakak kamu lebih baik, kamu g akan bisa bikin aku ngebuka hati aku buat orang lain, kamu g akan bisa bikin aku bangkit, kamu g akan bisa", jawabku sedikit berteriak.
"Aku bisa, buktinya aku bisa ngajakin kamu jalan, aku bisa anter jemput kamu, sementara selama ini banyak cowo lain yang ngajakin kamu jalan tapi g satu pun yang bisa, semuanya kamu tolak, tapi aku bisa, hari ini buktinya, hari ini kamu ada disini karena aku yang ngajakin kamu kesini na, please na buka hati kamu, aku janji g akan nyakitin kamu dan g akan ninggalin kamu sampai kapanpun, izinin aku buat nyembuhin luka dihati kamu, kasih aku kesempatan na. Masalah kakak aku aku g bisa bikin dia bangkit kalo dia sendiri g mau bangkit dari keterpurukannya. Aku bisa bikin kamu bangkit na asal kamu mau bangkit dari semua keterpurukan kamu", ucapnya pelan
Aku hanya diam, sedikit terguncang, karena tanpa kusadari aku telah merobohkan benteng yang selama ini kubangun untuk hatiku sendiri, kakiku mulai g kuat menahan berat tubuhku, aku terduduk disini, dibawah pohon ini, tanpa kusadari air mataku mulai tumpah, semakin lama semakin deras.
Sedangkan Ricky duduk disebelahku, menggenggam tanganku, menenangkan tangisku.
"na, aku sayang sama kamu, aku janji g ada ninggalin kamu, aku g akan nyaktin kamu", ucapnya pelan ditelingaku.
Aku hanya mengangguk, dia terus memelukku dan menenangkanku.
Dan kini kugantungkan haparanku kepadanya, kepada orang yang telah mampu menghancurkan benteng hatiku yang selama ini ku bangun dengan susah payah.